Kamis, 26 November 2015

MEMAKNAI KEMBALI PENDIDIKAN

    Gegap gempita hari guru yang baru saja berlangsung beberapa saat lalu harusnya menjadi bahan perenungan tentang kondisi pendidikan kita sejauh ini bukan hanya berfokus pada sosok guru tapi pada sistem pendidikan yang sejauh  ini kita jalankan.

      Pendidikan itu pada  dasarnya adalah proses memanusiakan manusia dengan cara manusia agar menjadi lebih manusia  yang dimana pada proses itu nantinya diharapkan akan menghasilkan manusia yang benar-benar memiliki sifat seorang manusia yang benar –benar berakal. Tapi apakah realitanya seperti itu ?
     Kita dapati kini pendidikan jauh dari yang namanya proses untuk menciptakan manusia yang berakal kalau diartikan akal disini adalah kepintaran dalam penguasaan ilmu pengetahuan jelas pendidikan masih menghasilkan mereka yang pintar dalam ilmu pengetahuan tapi jika di artikan lebih jauh kepada konteks perilaku dan nurani maka sangat jauh sekali  kesenjangannya.
       Sering kita temukan fakta ada mereka yang pintar dalam suatu bidang keilmuwan dan menjadikan ilmu yang dikuasainya sebagai senjata untuk menghancurkan sesamanya kalaupun dia tergerak untuk mengabdikan ilmuwanya itu pun dengan alasan untung dan rugi karena memang mindset pendidikan selama ini pada kenyataan sudah bukan memanusiakan manusia lagi tapi membisniskan kemanusiaan .
    Karena pendidikan yang berbasis pada banyaknya uang yang diterima dari kantung para siswanya otomatis akan menghasilkan output balik modal sebuah pendidikan yang menanamkan kamu harus kaya untuk membalikkan modal yang ditanamkan orang tuamu pada proses pendidikanmu hasilnya ketika mereka menjadi seorang pemimpin yang ada dalam benak mereka adalah keuntungan untuk membalikkan modal yang mereka keluarkan untuk pendidikan.
      Memang pendidikan butuh uang namun mindset yang salah soal uang akan menghasilkan individu yang hanya fokus pada nilai material daripada nilai lainnya katakanlah nilai spiritual apalagi nilai kebudayaan karena mindset yang dia dapat selama ini hanyalah belajar kemudian kerja lalu membalikkan modal uang yang keluar untuk belajar dan dalam prosesnya mereka akan menggunakan segala cara untuk meraih keuntungannya yang salah satunya adalah menghisap sesama mereka.
     Manusia pada dasarnya adalah kertas yang putih, pendidikan adalah pena yang menuliskannya. Jika yang menuliskan memberi cerminan kejelekan maka masa depan sudah bisa ditebak dari apa yang dituliskan oleh pendidikan itu sendiri. Tidak perlu untuk meramal ke ahli nujum untuk melihat masa depan cukup lihat bagaimana sistem pendidikannya, karena apa yang diterapkan dalam pendidikan kini akan menentukan hari esok seperti apa.
      Pendidikan itu pada dasarnya adalah hak setiap orang dan tanpa adanya diskriminasi dan pendidikan yang benar adalah pendidikan yang tidak hanya berbasiskan pada nilai akademik tapi pertumbuhan karakter siswanya dalam hal ini mencakup kemampuan bersosialisasi, menyelesaikan masalah, berargumentasi, pemahaman nalar kritis, dan masih banyak lain skill sosial yang kelak akan dibutuhkan siswanya bukan skill yang hanya berbasiskan pada pencarian keuntungan pribadi tapi sebuah skill yang mampu  menangkat nasib sesamanya menjadi lebih maju.

        Pendidikan yang baik tidak mengenal bodoh dan pintar apalagi cacat dan tidak cacat karena pendidikan adalah hak setiap manusia dan setiap manusia memiliki persamaan didepan hak itu tidak ada perbedaan apapun karena pendidikan yang sudah melabeli si a sebagai bodoh dan si b sebagai pintar adalah pendidikan yang tidak memberi contoh pentingnya sikap saling menghargai, membantu , dan menghormati kemampuan sesamanya isitlah bodoh dan pintar itu cenderung meremehkan kemampuan seorang manusia sebenarnya daripada melabeli siswa dengan unggul dan non unggulan lebih baik mengelompokkan mereka berdasarkan kemampuan apa yang mereka minati karena bisa jadi non unggulan adalah mereka yang memiliki kemampuan lain yang bisa jadi lebih unggul daripada unggulan.

         Pendidkan tidak terlepas dari sosok seorang guru ya seorang guru yang menjadi pembimbing siswanya untuk lepas dari belenggu kebodohan,guru adalah aset yang penting untuk kemajuan sebuah bangsa ada cerita unik ketika jepang ingin bangkit dalam keterpurukan setelah perang dunia 2 mereka tidak mengumpulkan tentara, dokter ,apalagi arsitek untuk memperbaiki negeri mereka yang porak poranda tapi yang pertama dicari kaisar jepang pada saat itu adalah guru, dia bertanya pada semua staf pemerintah jepang “ seberapa banyak guru yang masih dimiliki bangsa ini”.
      
       Jepang saat itu sadar akan pentingnya seorang guru yang merupakan tonggak majunya sebuah bangsa daripada mementingkan elemen lainnya yang pertama menjadi fokus jepang adalah perbaikan pendidikan dan memang bisa kita lihat kini jepang menjadi negara yang memiliki sistem pendidikan yang bisa dikatakan terbaik didunia.
     
     Berbanding terbalik dengan indonesia, negara kita dari awal kemerdekaan hingga kini kalau bicara pendidikan selalu carut marut, untuk soal guru indonesia sendiri kekurangan guru yang berkualitas dan ironis guru yang dipekerjaan oleh negara adalah mereka yang sibuk mengejar kenaikan pangkat untuk membalikkan modal  menjadi seorang guru, karena memang sejak awal menjadi seorang guru bukan jalan pengabdian tapi hanya profesi yang keuntungannya bisa dijadikan penyambung hasrat pemenuhan materialisme.

           Kondisi sistem yang tidak bagus ditambah lingkungan sosial dalam dunia pendidikan yang tidak kondusif dan tidak berperan maksimalnya seorang guru dalam mendidik siswanya menjadikan masa depan negara ini sepertinya akan tetaplah sama tidak terlalu maju tapi tidak pula terlalu mundur mungkin kedepan ya kita akan tetap sama tapi mungkin dengan sedikit perubahan yang itupun tidak terlalu banyak dan terlalu signifikan kalaupun adanya perubahan yang progresif pastilah itu akan penuh intrik karena perubahan dijalankanya oleh mantan siswa yang sejak pendidikan diajarkan untuk menjadi pengejar keuntungan daripada pengejar kebaikan.
        
      Nilai agama mungkin sejak pendidikan ditanamkan namun apalah artinya nilai agama jika itu hanya sebuah nilai mungkin mudah untuk berbicara nilai agama dari a sampai z tapi pada kenyataannya adalah seberapa paham siswa tersebut akan pentingnya nilai agama untuk diterapkan pada lingkungan dimana dia tinggal. Pertanyaannya adalah bukan seberapa  banyak ayat yang dihafalkan oleh para siswa tapi seberapa banyak praktek nilai kebaikan yang terkandung dalam ayat itu yang berhasil diterapkan oleh seorang siswa?.
        
       Mungkin perbuatan itu sulit diukur namun katakankan jika sedikit dialihkan penekanan dari yang dahulu hanya pemahaman sebatas ucapan dan diberi penekanan pemahaman yang menekankan tindakan mungkin akan menciptakan sedikit perbedaan. Karena berbicara nilai agama bukan soal bicara identitas keagamaan tapi bicara lebih dalam soal penerapan sebuah keyakinan yang bisa menciptakan individu yang tercerahkan dan memberi pencerahan. 

     Akhir kata dari esai saya ini, saya tidak mengharapkan terlalu banyak perubahan sistem pendidikan indonesia. karena perubahan yang akan dimunculkan meskipun awalnya baik tapi pasti akan menimbulkan ketidak pengertian dan ketidak setujuan dikemudian hari tapi sedikit saran saya adalah untuk mengkoreksi sedikit saja apa yang selama ini kita anggap pendidikan terbaik dengan melihat hasilnya bukan melihat seberapa besar nilai yang tertera pada raport ataupun seberapa berkualitasnya seorang pengajar karena fokus utama pada pendidikan adalah peserta didik yang sedang dibentuk menjadi apa ? bisa jadi guru yang berkualitas belum tentu menghasilkan murid yang berkualitas karena pengertian guru yang berkualitas pun mengandung bias karena yang berkualitas bukan soal seberapa banyak sertifikat yang dia dapat tapi seberapa paham, mengerti, dan berempatinya dia pada seorang murid sehingga dikemudian hari dia bisa menjalankan pengajaran yang berlandaskan pada hati nurani  pada muridnya dan sabar dalam mendidik muridnya.
        
     Akhir kata esay ini hanyalah sebuah perenungan dalam sebuah perenungan pastilah tidak mengandung kebenaran 100 % karena bisa jadi apa pendapat saya akan berbeda dengan pendapat anda tapi setidaknya pendapat saya memberikan sedikit gagasan bagi terbangunnya sebuah sistem pendidikan yang menghilangkan sekat bodoh dan pintar,diskriminasi kaya dan miskin, pengabsolutan pada nilai , penghambaan pada dunia material,  pembentukan karakter yang tidak khas bangsa, dan keapatisan atau keacuhan.