Gegap
gempita hari guru yang baru saja berlangsung beberapa saat lalu harusnya
menjadi bahan perenungan tentang kondisi pendidikan kita sejauh ini bukan hanya
berfokus pada sosok guru tapi pada sistem pendidikan yang sejauh ini kita jalankan.
Pendidikan itu pada dasarnya adalah proses memanusiakan manusia
dengan cara manusia agar menjadi lebih manusia
yang dimana pada proses itu nantinya diharapkan akan menghasilkan
manusia yang benar-benar memiliki sifat seorang manusia yang benar –benar berakal.
Tapi apakah realitanya seperti itu ?
Kita dapati kini pendidikan jauh
dari yang namanya proses untuk menciptakan manusia yang berakal kalau diartikan
akal disini adalah kepintaran dalam penguasaan ilmu pengetahuan jelas
pendidikan masih menghasilkan mereka yang pintar dalam ilmu pengetahuan tapi
jika di artikan lebih jauh kepada konteks perilaku dan nurani maka sangat jauh
sekali kesenjangannya.
Sering kita temukan fakta ada
mereka yang pintar dalam suatu bidang keilmuwan dan menjadikan ilmu yang
dikuasainya sebagai senjata untuk menghancurkan sesamanya kalaupun dia tergerak
untuk mengabdikan ilmuwanya itu pun dengan alasan untung dan rugi karena memang
mindset pendidikan selama ini pada kenyataan sudah bukan memanusiakan manusia lagi
tapi membisniskan kemanusiaan .
Karena pendidikan yang berbasis
pada banyaknya uang yang diterima dari kantung para siswanya otomatis akan
menghasilkan output balik modal sebuah pendidikan yang menanamkan kamu harus
kaya untuk membalikkan modal yang ditanamkan orang tuamu pada proses
pendidikanmu hasilnya ketika mereka menjadi seorang pemimpin yang ada dalam
benak mereka adalah keuntungan untuk membalikkan modal yang mereka keluarkan
untuk pendidikan.
Memang pendidikan butuh uang
namun mindset yang salah soal uang akan menghasilkan individu yang hanya fokus
pada nilai material daripada nilai lainnya katakanlah nilai spiritual apalagi
nilai kebudayaan karena mindset yang dia dapat selama ini hanyalah belajar
kemudian kerja lalu membalikkan modal uang yang keluar untuk belajar dan dalam
prosesnya mereka akan menggunakan segala cara untuk meraih keuntungannya yang
salah satunya adalah menghisap sesama mereka.
Manusia pada dasarnya adalah kertas
yang putih, pendidikan adalah pena yang menuliskannya. Jika yang menuliskan
memberi cerminan kejelekan maka masa depan sudah bisa ditebak dari apa yang
dituliskan oleh pendidikan itu sendiri. Tidak perlu untuk meramal ke ahli nujum
untuk melihat masa depan cukup lihat bagaimana sistem pendidikannya, karena apa
yang diterapkan dalam pendidikan kini akan menentukan hari esok seperti apa.
Pendidikan
itu pada dasarnya adalah hak setiap orang dan tanpa adanya diskriminasi dan
pendidikan yang benar adalah pendidikan yang tidak hanya berbasiskan pada nilai
akademik tapi pertumbuhan karakter siswanya dalam hal ini mencakup kemampuan
bersosialisasi, menyelesaikan masalah, berargumentasi, pemahaman nalar kritis,
dan masih banyak lain skill sosial yang kelak akan dibutuhkan siswanya bukan
skill yang hanya berbasiskan pada pencarian keuntungan pribadi tapi sebuah
skill yang mampu menangkat nasib
sesamanya menjadi lebih maju.
Pendidikan yang baik tidak mengenal
bodoh dan pintar apalagi cacat dan tidak cacat karena pendidikan adalah hak
setiap manusia dan setiap manusia memiliki persamaan didepan hak itu tidak ada
perbedaan apapun karena pendidikan yang sudah melabeli si a sebagai bodoh dan
si b sebagai pintar adalah pendidikan yang tidak memberi contoh pentingnya
sikap saling menghargai, membantu , dan menghormati kemampuan sesamanya isitlah
bodoh dan pintar itu cenderung meremehkan kemampuan seorang manusia sebenarnya
daripada melabeli siswa dengan unggul dan non unggulan lebih baik
mengelompokkan mereka berdasarkan kemampuan apa yang mereka minati karena bisa
jadi non unggulan adalah mereka yang memiliki kemampuan lain yang bisa jadi
lebih unggul daripada unggulan.
Pendidkan tidak terlepas dari
sosok seorang guru ya seorang guru yang menjadi pembimbing siswanya untuk lepas
dari belenggu kebodohan,guru adalah aset yang penting untuk kemajuan sebuah
bangsa ada cerita unik ketika jepang ingin bangkit dalam keterpurukan setelah
perang dunia 2 mereka tidak mengumpulkan tentara, dokter ,apalagi arsitek untuk
memperbaiki negeri mereka yang porak poranda tapi yang pertama dicari kaisar
jepang pada saat itu adalah guru, dia bertanya pada semua staf pemerintah
jepang “ seberapa banyak guru yang masih dimiliki bangsa ini”.
Jepang saat itu sadar akan
pentingnya seorang guru yang merupakan tonggak majunya sebuah bangsa daripada
mementingkan elemen lainnya yang pertama menjadi fokus jepang adalah perbaikan
pendidikan dan memang bisa kita lihat kini jepang menjadi negara yang memiliki
sistem pendidikan yang bisa dikatakan terbaik didunia.
Berbanding terbalik dengan
indonesia, negara kita dari awal kemerdekaan hingga kini kalau bicara
pendidikan selalu carut marut, untuk soal guru indonesia sendiri kekurangan
guru yang berkualitas dan ironis guru yang dipekerjaan oleh negara adalah
mereka yang sibuk mengejar kenaikan pangkat untuk membalikkan modal menjadi seorang guru, karena memang sejak
awal menjadi seorang guru bukan jalan pengabdian tapi hanya profesi yang
keuntungannya bisa dijadikan penyambung hasrat pemenuhan materialisme.
Kondisi sistem yang tidak bagus
ditambah lingkungan sosial dalam dunia pendidikan yang tidak kondusif dan tidak
berperan maksimalnya seorang guru dalam mendidik siswanya menjadikan masa depan
negara ini sepertinya akan tetaplah sama tidak terlalu maju tapi tidak pula
terlalu mundur mungkin kedepan ya kita akan tetap sama tapi mungkin dengan
sedikit perubahan yang itupun tidak terlalu banyak dan terlalu signifikan
kalaupun adanya perubahan yang progresif pastilah itu akan penuh intrik karena
perubahan dijalankanya oleh mantan siswa yang sejak pendidikan diajarkan untuk
menjadi pengejar keuntungan daripada pengejar kebaikan.
Nilai agama mungkin sejak pendidikan
ditanamkan namun apalah artinya nilai agama jika itu hanya sebuah nilai mungkin
mudah untuk berbicara nilai agama dari a sampai z tapi pada kenyataannya adalah
seberapa paham siswa tersebut akan pentingnya nilai agama untuk diterapkan pada
lingkungan dimana dia tinggal. Pertanyaannya adalah bukan seberapa banyak ayat yang dihafalkan oleh para siswa
tapi seberapa banyak praktek nilai kebaikan yang terkandung dalam ayat itu yang
berhasil diterapkan oleh seorang siswa?.
Mungkin perbuatan itu sulit diukur
namun katakankan jika sedikit dialihkan penekanan dari yang dahulu hanya
pemahaman sebatas ucapan dan diberi penekanan pemahaman yang menekankan
tindakan mungkin akan menciptakan sedikit perbedaan. Karena berbicara nilai
agama bukan soal bicara identitas keagamaan tapi bicara lebih dalam soal
penerapan sebuah keyakinan yang bisa menciptakan individu yang tercerahkan dan
memberi pencerahan.
Akhir kata dari esai saya ini,
saya tidak mengharapkan terlalu banyak perubahan sistem pendidikan indonesia. karena
perubahan yang akan dimunculkan meskipun awalnya baik tapi pasti akan
menimbulkan ketidak pengertian dan ketidak setujuan dikemudian hari tapi
sedikit saran saya adalah untuk mengkoreksi sedikit saja apa yang selama ini
kita anggap pendidikan terbaik dengan melihat hasilnya bukan melihat seberapa
besar nilai yang tertera pada raport ataupun seberapa berkualitasnya seorang
pengajar karena fokus utama pada pendidikan adalah peserta didik yang sedang
dibentuk menjadi apa ? bisa jadi guru yang berkualitas belum tentu menghasilkan
murid yang berkualitas karena pengertian guru yang berkualitas pun mengandung
bias karena yang berkualitas bukan soal seberapa banyak sertifikat yang dia
dapat tapi seberapa paham, mengerti, dan berempatinya dia pada seorang murid
sehingga dikemudian hari dia bisa menjalankan pengajaran yang berlandaskan pada
hati nurani pada muridnya dan sabar
dalam mendidik muridnya.
Akhir kata esay ini hanyalah sebuah
perenungan dalam sebuah perenungan pastilah tidak mengandung kebenaran 100 %
karena bisa jadi apa pendapat saya akan berbeda dengan pendapat anda tapi
setidaknya pendapat saya memberikan sedikit gagasan bagi terbangunnya sebuah
sistem pendidikan yang menghilangkan sekat bodoh dan pintar,diskriminasi kaya
dan miskin, pengabsolutan pada nilai , penghambaan pada dunia material, pembentukan karakter yang tidak khas bangsa,
dan keapatisan atau keacuhan.